Dua hari yang lalu, Lia ajak saya ke dokter mata, sebetulnya sudah lama memang jurung-jurungin dia buat cek ke Poli kapan dokter mata avaiable, setelah check up terakhir lebih dari dua tahun lalu.
Dokter mata itu tidak menemukan pertambahan minus di mata lia. Biasa-biasa saja, hanya pergantian lensa kacamata biasa saja. Sedangkan yang membuat saya cukup terkesima adalah ketika dia memeriksa mata saya dan langsung memvonis saya. Mata kiri saya cukup normal, hanya minus 0.5 hingga satu saja, sedangkan mata kanan saya justru berbeda jauh, lebih dari -3. Ini tidak balance dan dia bilang itu adalah kelainan alias bawaan sejak lahir. Saya menanyakan solusinya, dan dengan santai dia menjawab bahwa saya tidak perlu memakai kacamata. That’s it. Ngga puas dengan jawaban yang terlalu simple itu, saya tanya terus tentang masalah ini. Dia bilang sih mata saya yang kiri terlalu capek kalau harus terus bekerja untuk melihat/ membaca, kasihan. Sehingga ya solusinya paling normatif-nya sih jangan terlalu memforsir mata untuk membaca atau didepan komputer dalam kurun waktu yang lama tanpa jeda.
Saya tanyakan juga jika dilakukan operasi lasik, dengan santainya dia menjawab bahwa hal itu tidak bisa membantu karena yang menjadi masalah adalah otot/ syaraf mata saya bukan kornea mata.
Dokter itu malah menerangkan lebih lanjut jika penanganan hal seperti ini adalah justru seharusnya lebih dini, yaitu ketika saya masih kecil, seharusnya saya sudah menggunakan kacamata, walaupun saya sendiri tidak pernah mengeluh tentang mata saya. Hmmm dari statement yang dia sederhanakan menjadi bahasa yang ringan itu saya mulai bisa memahami dan menerima kenyataan. Mau diapain lagi. Trus saya ingat ibu saya yang juga punya masalah yang sama. Ya benar saja, ini kelainan bawaan alias diturunkan sejak lahir.
Tapi once in a while, kalau pandangan mata mulai remang-remang alias kabur, saya mencoba memakai kacamata yang sekian lama berselang saya pakai. Lumayan juga agar mata kiri tidak terlalu capek untuk fokus terus didepan layar monitor. Mungkin ini pelajaran bagi orang tua yang mempunyai anak, agar memeriksakan anaknya sedini mungkin agar kejadian yang saya alami tidak berulang atau secepat mungkin dapat ditanggulangi/ dicegah.
Gonjang ganjing soal Cicak vs Buaya ini ternyata memang menyedot perhatian masyarakat luas. Baru kemarin saya menulis hal ini, eh tadi sore saya baru tahu kalau dua pentolan masyarakat dari pihak pengacara maupun dari pihak DPR ternyata bersilat lidah hingga dipisahkan oleh staf presiden bidang hukum karena sudah menjurus kepada keributan secara fisik. Memalukan.
Banyak warga protes dengan perdebatan yang menguras perhatian masyarakat luas ini. Lihat saja perekonomian yang tiba-tiba terpengaruh oleh kasus ini. IHSG yang juga beranjak naik. Pasar saham bergejolak. Tidak sepatutnya masalah ini menjadi besar dan menjadi konsumsi masyarakat awam melalui media Facebook, yang justru ujungnya malah persaingan yang tidak sehat, karena pihak yang merasa terpojokkan pun membuat group solidaritas melalui media facebook juga, kan bukan seperti ini seharusnya yang terjadi. Hampir semua lapisan angkat bicara termasuk presiden yang didesak kaum akademisi untuk memberikan statement-nya, walaupun saya tahu apa yang akan dikatakan oleh Pak SBY. (karena itu yang sering dikatakan oleh staf presiden setiap kali wawancara di TV).
Terakhir saya lihat juga tadi malam Kapolri merasa terusik dengan ulah anakbuahnya yang secara tidak sengaja mempopulerkan istilah cicak dan buaya sehingga beredar luas di masyarakat dan kemudian dia merasa perlu untuk memberikan pernyataan agar istilah itu tidak digunakan lagi. Eh lagi-lagi Media merasa pernyataan Kapolri itu sebagai intervensi terhadap pihak media. Hmmm…semakin runyam urusan ini.
Hari ini saya dengar akan ada sidang di MK untuk mendengarkan rekaman pembicaraan yang sangat ramai dibicarakan itu. Penasaran nih ingin tahu lebih lanjut masalah ini.
Dari awal kasus ini merebak, saya sudah punya firasat polisi akan jatuh pamornya oleh karena terus menerus disudutkan oleh media dan juga masyarakat luas. Padahal kita seharusnya tidak lupa akan jerih payah mereka menangkap dan menghancurkan organisasi teroris baru-baru ini. Sungguh disayangkan jika kerja yang apik itu hancur oleh karena ulah segelintir orang yang memelintir fakta atau tidak profesional dalam menggunakan wewenang yang mereka miliki.
Saya tidak berharap ada pihak-pihak yang justru tersenyum melihat semua ini dan merasa terbantukan sehingga kasus yang menimpa dia tidak ter-expose oleh publik. Semoga tidak ada orang yang seperti itu.
Hi folks, how’s ur weekend going? I bet it’s a nice one
Soal cicak vs buaya ini semakin bergaung di media televisi akhir-akhir ini. Istilah ini bahkan dimunculkan secara berseloroh tanpa berpikir bakal jadi istilah yang populer di masyarakat oleh Kabareskrim POLRI, Susno Duadji.
Perdebatan antara KPK dan POLRI yang semakin memanas karena Media juga ikut berperan dalam meningkatkan animo masyarakat untuk ikut andil dalam menyuarakan suaranya. Semuanya serba debatable. Sebagai rakyat kecil, kita seperti digiring untuk masuk kesana dan membela kaum yang lemah, dalam hal ini KPK, yang sepertinya secara sistematis berusaha untuk diobok-obok dan dilemahkan, padahal kita belum tahu secara juntrung duduk perkara sebenarnya.
Bagi saya, kita sebagai warga masyarakat yang awam terhadap masalah hukum dan HAM, ya sebaiknya jangan terlalu emosi dalam menyikapi hal ini. Presiden pun tidak mau gegabah untuk men-judge dua lembaga yang secara formal yuridis ini seharusnya dapat bekerja sama memberantas korupsi. Sayang sekali jika karena masalah yang tidak terlalu fundamental sifatnya, dua lembaga ini malahan dianggap masyarakat sebagai antithesis pemberantasan korupsi.
Kita tidak bisa serta merta menjadikan mereka sebagai bulan-bulanan ejekan dan terkesan sebagai tertuduh karena seringkali baik namanya ataupun wajahnya muncul di televisi dan celakanya nara sumber yang dihadirkan seolah-olah ada di pihak yang benar. Biarlah proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Toh saya tetap optimis bahwa hukum akan tetap ditegakkan terlepas dari oknum-oknum yang terlibat didalam hukum itu sendiri. Kebenaran dan keadilan akan tetap bersinar, saya yakin.
Btw, ngomong2 soal cicak dan buaya, baru kemarin malam saya menghadiri acara nikahan teman kerja di bilangan Gudang Utara, sementara seminggu sebelumnya juga saya dan Lia menghadiri pesta pernikahan di hotel Four Seasons, Jakarta. Mungkin itu yang dibilang seperti cicak dan buaya jadinya
I am getting better at managing my time but in a weird sort of way. I still often stay up until 1 or 2 in the morning but I’ve offset things by allowing myself more leisure time throughout the day, whether it be going out to lunch or dinner with Lia or just playing around with jQuery in front of the computer at home. On my to-do list for the second mid of 2009 (well, it’s not a to-do list actually, I’d rather call it wishlists instead), I’m hoping to expand my hobbies by learning PHP, Ajax and jQuery and all the web kinda things. My hobby right now is building web applications and even then, I spend more time on sites like 1stwebdesigner and twitter.com than I do working on my own projects. That’s definitely something I want to change.
I still want to get more exercise but haven’t made any steps to accomplish that goal. Maybe this is the year I get it done.


