Google+

Dosen yang arogan

Leave a comment

October 13, 2008 by noviantoagam

Sorry kasih judul yang mungkin provokatif. Tapi ini terjadi di tempat saya kerja. Seorang dosen muda, disebuah Fakultas yang diberi mandat oleh Rektor untuk menduduki suatu posisi tertentu kemudian tiba-tiba mengundurkan diri untuk sebuah alasan yang sepele. Ini didasarkan karena ada mahasiswa bimbingannya yang mengajukan protes karena tidak diperbolehkan untuk maju skripsi/ sidang karena alasan keterlambatan yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut. Mahasiswa tersebut memang mengakui kesalahannya, dikarenakan tidak membaca pengumuman yang sudah ditempel di kaca pengumuman.

Namun masalahnya menjadi serius ketika ada mahasiswa yang lain dengan cerita yang sama namun akhirnya diperbolehkan untuk mengikuti skripsi/ sidang. Nah mahasiswa ini kemudian mengajukan complaint letter kepada Rektor dan mendapat persetujuan. Alih-alih mengikuti keputusan atasannya, dosen ini malah protes dengan cara mengundurkan diri. Dia tetap kekeuh dengan pendiriannya dan tidak mau mengikuti petunjuk atasan. Lha, anak kecil banget. (emang umurnya juga belum seberapa dan jam terbangnya pun masih kecil dalam mengajar).

Dosen itu pun berulah dengan atasannya langsung di tempat dia kerja. Sorry to say ya, tapi buat saya, dosen yang seperti ini memang arogan dan kekanak-kanakan. Menyebalkan. Saya ngga bisa sebut nama dan fakultas mana.  I can’t say much more about it, as I’ve learned that I can’t really write about anything work-related on here, whether good or bad, as it’s a conflict of interest.

Saya beberapa kali nulis di blog ini, jika menjadi pemimpin itu tidaklah mudah. Selain menjadi contoh bagi orang-orang dibawahnya, dia pun harus memiliki komunikasi dan hubungan yang baik dengan sesama pemimpin yang lain. Harus rela berkorban dari semua aspek, tenaga, pikiran, waktu termasuk perasaan juga. Makanya ngga gampang jadi pemimpin.

Jangan berharap tunjangan struktural yang diterima berbanding lurus dengan tanggung jawab yang diemban. Bagi yang serius menekuni jabatannya, pastilah tunjangan yang diterima dirasakan tidak sesuai namun saya yakin mereka tetap bersyukur atasnya, tapi bagi yang tidak sepenuh hati bekerja, tunjangan itu dirasakan kecil dan jabatan itu seperti beban yang membelenggu. Ya pasti ngga tahan dan mengundurkan diri. Kalau sudah menyangkut karakter seseorang, susah memang untuk mengubahnya selain melalui benturan-benturan atau Tuhan sendiri yang membentuknya. Semoga dia berubah dan menjadi lebih bijak lagi dalam melangkah. Amen.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Heyaaa…

If you are reading this blog, it’s because you are meant to read something I have written or will write. There is no coincidence, everything happens for a reason. You have come at the exact moment you were meant to. You will gain something, be it big or small, from an article or post on this blog. Welcome.

Thanks for stopping by!

  • 55,853 hits

Add your e-mail to your below and press Enter on your keyboard. No free bribes to entice you to sign up, but I'll let you know about new Essays and other private goings on. No spam or garbage. Honest. Cool? Cool.

Join 174 other followers

Archives

%d bloggers like this: